Kamis, 14 Oktober 2010

Ayat-ayat Cinta-05

Undangan di musim semi

Suatu pagi di musim semi, pemuda gembala ini mengundang si gadis untuk mengikutinya ke padang, tetapi saudara-saudara si gadis ada menangkap maksud bahwa pemuda gembala me­ngundang adik mereka. Oleh karena kecemasan tentang reputasi adik perempuannya, maka si gadis disuruh mengurus kebun anggur yang mereka miliki dalam rangka menggagalkan perte­muan dari si gadis dengan pemuda gembala tunangannya.
Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! (Kidung Agung 2:10-13)
Musim semi merupakan pemandangan yang menarik, dimana-mana bunga bermekaran. Udaranya yang hangat, karena peralihan dari musim dingin ke musim panas membuat rasa nya­man. Pepohonan mulai mengeluarkan tunas-tunas baru, daun-daun yang menghijau dengan kuncup-kuncup bunganya yang beraneka warna. Burung-burung beterbangan dari satu tempat ketempat lainnya mencari makanan setelah istirahat panjang dalam kebekuan musim dingin. Sungguh sebuah pemandangan indah yang luar biasa dan menakjubkan. Sebagai waktu dan keadaan yang tepat untuk mewakili indahnya kasih yang tumbuh diantara bunga-bunga cinta mereka yang sedang menjalin hubungan kasih sayang. Musim dingin telah lewat, kebekuan telah berakhir.

Spring in Israel
“Ingin berjalan berdua, denganmu kekasih…” Demikian sepenggal kalimat dari sebuah lagu Ebiet G. Ade. Kita semua mengetahui bahwa dalam jalinan cinta antar kekasih, ada waktu khusus yang diinginkan untuk dinikmati berdua saja, tanpa kehadiran orang lain. Sebuah waktu yang akan digunakan untuk mencurahkan isi hati. Sang pemuda gembala ingin berdua dengan si gadis karena itu ia mengundang kekasihnya untuk ikut bersamanya menikmati indahnya musim semi. Pergi berdua, sungguh se­buah kesempatan yang indah untuk berkasih mesra.
Ketika bertemu dan cinta kita bersemi kepada Yesus, keindahan dan kesejukan kasih-NYA melingkupi jiwa yang kering, membawa suasana baru, memecahkan kebekuan hati. Keinginan Tuhan membawa kita semakin dekat kepada-NYA, karena IA hendak mencurahkan isi hati-NYA, janji kasih-NYA hendak diberitahukan-NYA pada kita. Seiring dengan pertumbuhan benih kasih yang ada dalam diri kita, IA hendak membawa kita kedalam suasana baru dimana semua kein­dahan yang ada di sekitar kita juga sedang bersemi. Kehidupan berjalan paralel, apa yang terjadi di alam roh akan termanifestasi di alam jasmani, artinya seseorang yang sedang mengalami  pertumbuhan rohani, dalam kehidupannya selalu diikuti dengan pertumbuhan janji-janji Tuhan yang juga akan dinyatakan-NYA dalam alam jasmaninya. Iman itu berdampak.
Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Matius 13:12)
Ketika seseorang “dibukakan” tentang rahasia Kerajaan Sorga, Dalam terang Roh Kudus yang telah dicurahkan-NYA menjadikan dirinya insaf akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yohanes 16:8). Kehidupan menjadi berubah, Saulus contohnya. Ketika ia bertemu Tuhan (maaf, ditemui Tuhan), kehidupannya mengalami perubahan yang luar biasa. Ia telah dibawa ke dunia lain yang sangat berbeda dengan dunia lamanya. Dunia yang ada dalam dirinya yang semula penuh dengan kebencian akan nama Yesus, kini berbalik menjadi mengasihi-NYA. Tingkah laku­nya yang menganiaya dan merusak jemaat Tuhan berbalik menjadi membangun. Inilah yang ti­dak dikehendaki oleh “anak laki-laki” – kekuatan duniawi.
Semua kakak laki-laki si gadis takut akan reputasi adiknya bila ia mengikuti langkah sang gembala kekasihnya ke padang. Semua kekuatan duniawi yang ada dalam pikiran memberikan rasa takut akan reputasi diri, memberikan tekanan kepada orang yang jatuh cinta kepada Tuhan, bila mengikuti jejak langkah-NYA ke padang. Kekuatan duniawi ini berusaha untuk membelenggu dan membelokkan arah. Kecemasan akan reputasi memaksa si gadis untuk mengurus kebun anggur “duniawi” milik para kakak laki-lakinya. Mereka memberi tugas-tugas untuk mengurusi kebun anggur agar terpisah dari sang pemuda gembala.
Anggur dalam alkitab adalah gambaran sukacita, sehingga kebun anggur dapat diartikan se­bagai sumber sukacita. Dunia dan keinginannya merupakan penghasil sukacita duniawi yang jauh dari kasih Tuhan. Inilah yang ditawarkan, atau dipaksakan oleh kekuatan dunia atas orang percaya yang “bersemi” – sedang bertumbuh mengasihi Tuhan. Dunia berusaha kuat untuk membelokkan arah kedekatan dengan kasih Tuhan. Reputasi merupakan kebanggaan diri yang paling dipertahankan dunia. Sehingga ketika seseorang yang mulai mendekatkan diri kepada Tuhan dikatakan seperti “sok suci”, “sok rohani” dan sebagainya, seolah harga dirinya dikoyak. Ketika mulai mengikuti jejak Tuhan ke padang “pelayanan”, dunia mengatakan “kurang kerjaan”, “urus diri sendiri kan lebih baik”, “jangan urusi orang lain”, “kamu salah jika tidak seperti orang pada umumnya” dan masih berbagai perkataan yang merendahkan lainnya. Hal ini mengakibat­kan seseorang yang sedang jatuh cinta kepada Yesus masuk ke kebun anggur duniawi. Kasih kepada Yesus akhirnya hanya sebatas perkataan atau pengakuan bibir. Tetapi hati dan pikirannya masih mengerjakan kebun anggur – sumber kesenangan duniawi.
Pikiran yang materialistis, membawa orang mengasihi Yesus sebatas materi yang diterima dari Tuhan. Jika dirinya “diberkati”, barulah mendekat kepada Tuhan, jika tidak “untuk apa ikut Tuhan”. Pikiran rasionalis, membatasi keberadaan Tuhan dengan ukuran pemikiran manusiawi, orang yang demikian hanya mempercayai “apa yang masuk akal” saja. Seorang for­malis, merasa bersalah ketika dirinya berubah dari kebiasaan-kebiasaannya. Ketakutan akan perubahan status sosial tertentu dari seorang eksistensialis membuat dirinya tidak beranjak dari “kursi empuk’ ke­nyamanannya. Saul, raja Israel merupakan contoh orang pilihan yang gagal mengikuti kehendak Tuhan yang akhirnya mengikuti pikiran duniawinya sendiri.
"Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku...” (1Samuel 13:11)
Rasul Paulus dalam terang Roh Kudus yang membuka pengertiannya, telah mencatat adanya beberapa hal yang dapat menghalangi, menjauhkan atau bahkan dapat menolak pengenalan kita akan Allah. Kekuatan-kekuatan duniawi yang telah mengalami pertumbuhan dalam kehidupan manusia. Bahkan diluar kesadaran kita, kekuatan ini telah tumbuh tak terbendung. Sebagai contoh materialisme, ternyata ia telah hadir seiring dengan pertumbuhan jasmaniah ketika orang tua kita memberi makan, membelikan baju baru, mengajak pergi ke pesta dan sebagainya. Demikian pula moderenisme, ia hadir dalam kehidupan ketika perlunya pendidikan sekolah dibutuhkan bagi pengembangan diri. Rasionalisme berkembang seiring pengalaman kehidupan. Dan masih banyak “isme” lain yang secara tidak kita sadari telah lahir sebagai “kakak laki-laki” dalam kehidupan kita ketika “si gadis” lahir sebagai adik paling bungsu.
Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. (2Korintus 10:3-5)
"Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. (Matius 15:13) 
Semua siasat, kubu-kubu dan benteng yang ada dalam pikiran manusia ini bertumbuh untuk mempertahankan keangkuhan diri – reputasi. Segala sesuatu yang dikerjakan akhirnya bermuara kepada diri sendiri. Sebaliknya Yesus Kristus memberi contoh kepada kita, bahwa didalam ketaatan kasih kepada Bapa Surgawi, IA tidak mengerjakan segala sesuatu diluar kehendak Bapa-NYA. “Bukan kehendak-KU, tetapi kehendak-MU jadilah”. IA tidak takut untuk ditinggalkan sekalipun oleh mereka yang pernah mendapatkan kebaikan dari-NYA. Sebagai manusia IA telah memberi contoh sempurna untuk mengasihi dan hidup hanya untuk Allah – Bapa-NYA.
Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yo­hanes 6:66-67)
Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. (Yohanes 15:19; 1 Yohanes 3:13)
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:5-7)
Tuhan ingin kita mengikuti jejak langkah-NYA, untuk mengerjakan segala yang dikehendaki Bapa Surgawi bersama-NYA. Kecemasan akan reputasi seringkali menjadi penghalang untuk mendekat dan melangkah bersama-NYA. Sebagaimana Yesus Kristus tidak mempertahankan reputasi-NYA, dalam rupa Allah IA telah mengambil rupa seorang manusia – hamba, maka seharusnya kita – manusia yang adalah “gambar dan rupa Allah” juga mengambil sikap seperti DIA, dan tidak menempatkan diri kita sebagai allah.

Manusia seringkali meninggikan diri sebagai allah,
tetapi
Allah telah rela merendahkan diri menjadi manusia.

bersambung...

Selasa, 28 September 2010

Ayat-ayat Cinta-04

Aku jatuh cinta

Si gadis jatuh hati pada gembala muda yang lemah lembut dan anggun penampilannya ini. Setiap saat mereka bertemu menjalin kedekatan di bawah pohon apel itu, mengikat janji cinta sejati satu sama lain. Mereka berjanji setia untuk saling mencintai dan terus mencintai sampai mereka bersatu dalam pernikahan.
Pertemuan biasanya berlanjut dengan perkenalan, perkenalan kemudian menjadi pertemanan. Pertemanan bertumbuh menjadi persahabatan, persahabatan berkembang menjadi pertunangan. Pertu­nangan membuahkan pernikahan.
Sebagai mahluk sosial yang hidupnya berdampingan dengan sesamanya, adalah wajar bila kita sebagai manusia senantiasa mengalami perjumpaan satu sama lain. Melalui perjumpaan yang tak terencana sebelumnya, kemudian oleh anugerah Tuhan kita menemukan calon pasangan hidup. Rasa tertarik mendorong rasa simpati. Perasaan ini sebenarnya timbul karena kebutuhan diri sehubungan dengan berbagai macam latar belakang. Kebutuhan untuk mendapat pertolongan itulah yang mendorong Adam (manusia) untuk mencari pasangan yang sepadan dengan dia.
Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. (Kejadian 2:20)
Inilah yang menjadi dasar dari setiap terjalinnya hubungan perkawinan-pernikahan. Dan justru karena dorongan kebutuhan diri, maka kebanyakan orang mencari pasangan untuk memenuhi kebutuhan atau menutupi kekurangannya.
Ketika panas terik dunia ini melanda, kehidupan menjadi terasa kering. Kondisi ekonomi, bencana alam, kejahatan dan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah melanda dan menekan seluruh umat manusia. Jiwa manusia menjadi letih lesu, tertekan, gelisah, ketakutan bahkan putus asa. Apa yang akan terjadi dimasa depan telah merupakan ketakutan terbesar dalam kehidupan ini. Tempat perteduhan yang sempurna kita butuhkan agar kekeringan, kehausan dan kematian tidak terus menimpa. Pohon apel – pengetahuan akan kebenaran sejati kita butuhkan agar kita terluput dari kematian kekal. Ketika kita mencari tempat perteduhan yang sejati dengan kesadaran akan adanya kematian kekal oleh karena panasnya dunia ini, maka kita bertemu dengan “bocah angon” – sang pemuda gembala yang lemah lembut dan anggun penampilannya.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Matius 11:28-29)
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yohanes 10:11)
Orang yang kaya ingin lebih kaya lagi, orang yang berhasil tidak puas dengan keberhasilannya. Segala sesuatunya telah menjadi pendorong untuk lebih lagi dan lebih lagi. Sehingga hal ini menjadi te­kanan baru dalam kehidupan. Ketika kita melihat segala sesuatu yang berasal dan ada dalam dunia ini tidak dapat memuaskan, bahkan cenderung mendorong agar kita semakin mengejarnya – sekalipun hal ini tidak dapat menjamin masa depan yang sesungguhnya.
Mereka makan dan menjadi sangat kenyang; Ia (Allah) memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. Mereka belum merasa puas, sedang makanan masih ada di mulut mereka (Maz­mur 78:29-30)
Solaiman atau Salomo adalah raja Israel yang paling besar sepanjang sejarah umat manusia telah menuliskan pemikiran hikmatnya dalam banyak ayat dalam kitab Amsal dan Pengkotbah. Sebagai raja, ia telah memiliki segalanya, harta, tahta dan wanita, semuanya dekat dengan dia. Tetapi dalam pergumulan bathinnya ia berkata “segalanya sia-sia”
Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. (Pengkot­bah 1:2).
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pengkotbah 8:13-14)
Kitab Pengkotbah diakhiri dengan kesimpulan sang raja tentang apa yang paling penting dan wajib dikerjakan oleh semua orang. Salomo dengan segala kemegahannya menyadari bahwa hal terpenting dalam hidupnya adalah ary (yare’), rasa takut yang timbul karena menghargai dan menghormati Tuhan.
Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka. (Amsal 19:23)
Tetapi tentu saja rasa takut akan Allah ini baru hadir dalam kehidupan, ketika kita menyadari dan menerima kenyataan bahwa Allah itu ada. Sebab ketika kesadaran akan keberadaan Allah ini ada dalam diri, maka segala aspek keberadaan Allah itu kita akui. Pengakuan atas kehadiran-NYA yang maha hadir, maha kuasa, maha kasih dan maha segala-galanya termasuk apa saja yang telah, sedang dan akan  diperbuat-NYA. Pengakuan akan apa yang telah diperbuat-NYA menjadikan kita bersyukur atas anugerah kasih-NYA, pengakuan akan apa yang sedang dikerjakan-NYA menjadikan kita berusaha untuk ikut serta mengerjakan dan melayani-NYA, pengakuan akan apa yang akan dikerjakan-NYA membuat kita berharap dan mencari perkenan-NYA.
Salomo menjelaskan bahwa ketenangan jiwa hanya akan terpenuhi ketika keberadaan kita dekat dengan Tuhan. Kalimat “bermalam dengan puas” menunjuk kepada suatu waktu dimana mata kita tertu­tup oleh kegelapan. Secara hurufiah memang ini menunjuk kepada malam hari, dimana para pencuri dan kejahatan malam beraksi. Tetapi ini juga menunjuk kepada saat dimana kita menutup mata – tidur dalam arti kematian jasmani. Oleh karena rasa takut akan datangnya pencuri dimalam hari, maka rumah dibuat berpintu, berpagar bahkan penjaga disiapkan. Rasa takut akan “menutup mata” telah mendorong manu­sia berusaha untuk menyenangkan Tuhan. Tetapi apakah usaha untuk menyenangkan Tuhan yang dikerjakan oleh manusia ini benar dimata Tuhan, atau justru hanya menghasilkan kepuasan diri karena seolah-olah diri­nya telah menyenangkan Tuhan. Bagaimana mungkin manusia dapat mendekati Tuhan dan menyenang­kannya? Keadaan berdosa telah membatasi bahkan menjadi benteng yang memisahkan manusia de­ngan Tuhan. Yang maha suci terlalu suci untuk didekati dosa atau manusia berdosa.
Tuhan maha pengasih dan penyayang, oleh karena manusia tidak mungkin dapat mendekat kepada-NYA maka IA yang mendekat kepada manusia.
Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. (Yohanes 1:9-10)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. IA pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh DIA dan tanpa DIA tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam DIA ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasai-NYA. Fir­man itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-NYA, yaitu ke­muliaan yang diberikan kepada-NYA sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Inilah kesaksian Yohanes akan Yesus Kristus, sang Firman yang menjadi manusia. Yesus Kristus-lah sang gembala agung seluruh umat manusia. Ada jaminan hidup didalam-NYA, bukan hanya untuk kehidupan yang sekarang saja tetapi juga untuk kehidupan dimasa yang akan datang. DIA telah datang ke dunia sehingga memungkinkan kita untuk menerima dan mendekat kepada-NYA. DIA-lah jalan masuk untuk mendekat kepada Allah, DIA-lah pintu yang memungkinkan kita keluar dari tekanan dunia.
  Panas terik dunia telah dan terus menimpa kita; ketakutan dan kegelisahan akan “malam hari” yang segera tiba membuat jiwa kita menjadi letih lesu. Kini oleh anugerah kasih-NYA yang besar, DIA telah memberi­kan Yesus Kristus – Pribadi-NYA sendiri bagi kita sebagai jalan keluar sekaligus pintu masuk kerajaan-NYA. Seharusnya kita menerima dan menyambut kasih-NYA yang besar itu dengan memberi­kan kasih kita hanya kepada-NYA.
Saulus dalam pergulatan hidupnya untuk mendapatkan perkenan Tuhan, telah berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan hukum yang diajarkan nenek moyang Israel, ia menjadi murid Gamaliel dan sangat giat bekerja bagi Allah menurut pengertian ajaran Farisi. Menganggap ajaran “kebenaran” nenek moyangnya sebagai sesuatu yang perlu dibela. Ia telah menganiaya, menangkap juga memasukkan je­maat pengikut jalan Tuhan kedalam penjara. Iapun setuju untuk membunuh demi tegaknya ajaran nenek moyangnya. Panas terik dunia begitu kuatnya sehingga ia berusaha mendapat tempat berteduh dibawah pohon Kedar. Ia sadar akan api penghukuman yang akan datang, sehingga usaha yang dilakukannya begitu kuat. Kesadaran untuk mencari perkenan Tuhan itulah yang membawanya bertemu dengan Yesus Kristus – lebih tepatnya Yesus Kristuslah yang menemuinya – sehingga kehidupannya menjadi berubah, ia jatuh cinta kepada-NYA. Kebenaran yang sejati akhirnya menjumpai dan berbicara kepadanya. Pengenalan­nya akan Yesus membuatnya menyadari betapa besar kasih yang diberikan kepadanya. Kasih karunia yang besar dari Bapa surgawi itu telah membuatnya sangat mengasihi Tuhan. Kebersamaannya dengan Ye­sus telah membuatnya kuat dalam menghadapi “panas terik” yang menerpa dirinya. Si gadis itu akhirnya bertemu dengan “bocah angon” sang pemuda gembala itu, dan jatuh cinta kepadanya. Ia kemu­dian mengikat janji setia dengannya.
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau pengani­ayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:35-39)
Pengenalan akan besarnya kasih yang diberikan oleh pasangan menentukan besarnya balasan kasih. Artinya sama seperti hukum jual beli, harga yang diberikan haruslah sesuai dengan barangnya. Kalau ada orang yang berpihak kepada kita, sewajarnyalah kita berpihak kepada orang itu. Atau bila ada orang yang mati-matian membela kita, sepantasnyalah jika kita juga mau membela mati-matian terhadap orang yang demikian. Kasih seharusnya tidak bertepuk sebelah tangan. Tanggapan kasih dari Sau­lus tidaklah berlebihan sebab pada ayat-ayat sebelumnya ia menjelaskan kasih Tu­han yang telah ia terima.
Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenar­kan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? (Roma 31-34)

Jika kita menerima cinta-NYA, kita dapat mencintai-NYA
Sudahkah Anda jatuh cinta kepada Yesus Kristus?

bersambung…