Selasa, 21 Mei 2013

Kerajaan Allah dan kebenarannya, sorga yang turun ke bumi.


Kerajaan Allah dan kebenarannya, sorga yang turun ke bumi.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Matius 6:33a

Yesus Kristus menghendaki agar kita mencari atau mengupayakan (Alkitab bahasa Jawa) keberadaan Kerajaan Allah dan kebenarannya di dalam kehidupan kita. Kata yang dipakai dalam Injil Matius pasal 6 ayat ke 33 untuk kata “carilah” tersebut adalah ζητετε – zēteite, diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “seek ye” (V-PMA-2P, verb – present imperative active – 2nd person plural), sebuah kata kerja perintah aktif sekarang yang ditujukan bagi pribadi kedua jamak. Perintah yang sifatnya penting sekali, sebagai sesuatu yang harus dikerjakan, tidak boleh tidak. Maksudnya semua orang yang mendengarkan kotbah Yesus Kristus di bukit itu, diperintahkan untuk mengupayakan kehadiran atau keberadaan Kerajaan Allah dan kebenarannya sebagai hal yang harus didahulukan dalam kehidupan mereka.

Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah (Luk 7:12), tetapi berwujud rohaniah (Rom 14:17), merupakan sebuah pemerintahan surgawi yang kemuliaannya termanifestasi di bumi. Hal inilah yang  Yesus Kristus ajarkan kepada murid-murid-NYA melalui doa Bapa Kami, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat 6:10). Dengan adanya kata “kehendak-Mu” yang menyertai kalimat doa tersebut, maka kita mendapat pengertian yang lebih dalam lagi terkait dengan “pertobatan”, karena dalam Injil Yohanes tercatat jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah itu (Yoh 3:3). Pertobatan diambil dari kata Yunani “metanoia” – perubahan pola pikir; kemauan atau kesediaan moral intelektual seseorang untuk tunduk sepenuhnya terhadap kehendak Allah, tindakan yang merupakan langkah awal untuk memasuki Kerajaan Allah itu. Juga merupakan tindakan yang menunjukkan dirinya percaya bahwa Allah itu ada (Ibr 11:6). Perubahan pola pikir ini kemudian dilanjutkan dengan baptisan air sebagai tanda pengakuan dosa dan pertobatan (Mat 3:6, 11; KPR 2:38). Karena itu baptisan selayaknya dilakukan setelah seseorang mampu membuktikan bahwa dirinya telah mengambil keputusan yang kuat untuk tidak hidup dalam dosa lagi melalui perbuatannya yang nyata (Mat 3:8, Luk 3:8, The Living Bible)

Oleh karena Kerajaan Allah merupakan manifestasi Kerajaan Sorga di muka bumi ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan “perubahan pola pikir”, maka Yesus Kristus mengajar kita melalui perumpamaan tentang ragi, agar kita sebagaimana murid-murid-NYA memperhatikan dan mewaspadai pengajaran yang mungkin telah khamir karena ragi orang Farisi, Saduki, orang-orang Herodian dan lain-lainnya (Mat 13:33; 16:6-12; Mar 8:15; Luk 12:1).  Tentu saja penyimpangan pengajaran yang seolah benar, atau menyimpang sedikit dari kebenaran yang diajarkan menjadikan jemaat tidak lagi hidup dalam Kerajaan Allah. Hanya melalui Roh Kudus-NYA yang memenuhi, menguasai, memimpin dan mengajar kita melalui pengurapan-NYA yang dapat memimpin kita kepada seluruh kebenaran (KPR 1:8; Rom 8:14; 1 Yoh 2:27). Hal ini berarti setiap orang yang bertobat, selain dibaptis air haruslah hidupnya senantiasa ditenggelamkan dalam kuasa Roh Kudus-NYA. Karena hanya mereka yang telah dilahirkan oleh air dan Roh, yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:5-7). Orang-orang yang dimampukan oleh Roh Kudus-NYA untuk mengenakan pikiran dan perasaan Kristus dalam mengemban tugas pelayanan yang dipercayakan atas mereka, sehingga sekalipun mereka adalah pemimpin, mereka mampu memposisikan dirinya sebagai hamba, memberi keteladanan hidup bukan memerintah, melayani bukan dilayani.

Kembali kepada kata ζητετε – zēteite, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “seek ye” (V-PMA-2P, verb – present imperative active – 2nd person plural), sebagai perintah yang tidak ditujukan untuk perorangan saja, tetapi secara korporat kita diperintahkan Tuhan untuk mengusahakan kehadiran Kerajaan Allah dan kebenarannya itu. Tidak tunggu waktu atau besok untuk mengerjakannya tetapi sekarang juga selama masih ada ‘hari ini’ (Ibr 3:7-19). Kerajaan memang seharusnya memiliki rakyat yang banyak, karena tentu saja sebagai raja dalam sebuah kerajaan tidak mungkin hanya memiliki satu orang warga saja. Gambaran lainnya adalah bangunan rumah rohani yang terdiri dari batu-batu hidup sebagai tempat kediaman Allah (1 Pet 2:5), imamat rajani yang kudus.

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya." (Mat 13:33)

Ragi, sesuatu yang tidak boleh ada dalam makanan juga perkemahan bangsa Israel dalam persiapan mereka keluar dari Mesir, bahkan mereka harus dilenyapkan jika memakannya (Kel 12:15-20). Demikian pula dalam persembahan korban sajian yang diberikan pada Tuhan, tidak boleh beragi (Im 2:11). Para imam Lewi juga dilarang untuk makan makanan beragi (Im 6:15-17). Dalam Perjanjian Lama seringkali ragi menunjuk kepada hal yang negatif. Mudah untuk dimengerti jika kita memperhatikan proses pembuatan tape atau tempe. Ragi menunjuk kepada bahan yang mampu mengubah bentuk secara kualitas. Ragi berbicara tentang pengaruh yang ditimbulkan. Itulah sebabnya Yesus Kristus mengingatkan para murid untuk mewaspadai pengajaran orang Farisi, Saduki dan Herodian.

Dalam Perjanjian Baru, ragi secara simbolis dipakai dalam bentuk kontras dari pengertian negatif pengajaran sesat dari “keburukan dan kejahatan” dengan pengertian positif pengajaran benar yang berisi “kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:6-8). Hal ini berarti, sama seperti Kristus sebagai Batu Penjuru merupakan batu ukuran dalam pembangunan rumah rohani (jemaat Tuhan), maka setiap batu-batu hidup yang dipakai untuk bangunan tersebut haruslah sesuai dengan ukuran-NYA. Pengajaran tentang kebenaran Allah yang keluar dari hati nurani yang murni, yang telah dimurnikan oleh Allah, merupakan kebutuhan pokok dalam mengupayakan/pembangunan Kerajaan Allah di bumi ini.

Ragi Farisi menunjuk pada pengajaran-pengajaran yang mengutamakan penampilan luar (Mat 23:14, 16, 23-28), ragi Saduki menunjuk pada kebenaran skeptis terhadap penafsiran hal-hal rohani juga terhadap Kitab Suci (Mat 22:23-29), dan ragi Herodian menunjuk pada keduniawian kelompok/partai politik pengikut Herodes diantara bangsa Yahudi (Mat 22:16-21; Mar 3:6).

Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah kerajaan yang:
1.       Tidak berpenampilan luar dalam kemegahan dan mencari hormat/penghargaan manusia.
2.       Pengajarannya bergantung sepenuhnya pada pengurapan kuasa Roh Kudus, bukan karena ilmu pengetahuan dan kecakapan berbicara.
3.       Tidak membentuk kelompok terorganisir, sehingga terpecah-pecah seperti partai politik yang menjadi besar karena jumlah keanggotaannya, tetapi hidup dalam kesatuan.

bersambung…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar